Van Daalen 1906: 4. Prahara Tahta Bambel: Perlawanan Berdarah dan Tata Kuasa Wilayah

G. C. E. Van Daalen – Nota Over Het Alas-Land – 1906

Dalam sistem politik Tanah Alas, Sultan Aceh memang memberikan pengakuan resmi dan tongkat bawar sebagai simbol kekuasaan. Namun, pada kenyataannya, pesona dan pengaruh Kedjuron tetap menjadi penentu utama dalam memilih para kepala wilayah di Bambel.

Baca Selengkapnya

Van Daalen 1906: 3. Jejak Kekuasaan di Tanah Alas: Pembagian Wilayah dan Lahirnya Kerajaan Bambel

G. C. E. Van Daalen – Nota Over Het Alas-Land – 1906

Dalam sistem pemerintahan tradisional di Tanah Alas, lembaga Pengulu Si Empat atau Rojo Berampat memegang peran penting dalam membagi dan mengelola wilayah kekuasaan. Pembagian teritorial ini mencakup empat wilayah utama:

Baca Selengkapnya

Van Daalen 1906: 2. Pasang Surut Kekuasaan di Tanah Alas: Dari Persatuan Suku hingga Kedatangan Kolonial

G. C. E. Van Daalen – Nota Over Het Alas-Land – 1906 Seiring berjalannya waktu, Tanah Alas tumbuh menjadi sebuah wilayah yang dinamis di bawah naungan Kesultanan Aceh. Sosok pemimpin pertama di wilayah ini kemudian menjadi garis keturunan utama bagi para Kejuron Batu Mbulon di masa depan. Hubungan dengan Aceh tidak hanya menjamin keamanan wilayah, … Baca Selengkapnya

Van Daalen 1906: 1. Mengenal Tanah Alas: Hamparan “Tikar” di Jantung Lembah Sumatra

G. C. E. Van Daalen – Nota Over Het Alas-Land – 1906

Bayangkan sebuah lembah hijau yang membentang luas di antara jajaran pegunungan tinggi. Itulah Tanah Alas. Lembah ini memanjang dari arah Barat Laut hingga Tenggara sepanjang 26 kilometer, dengan lebar mencapai 8 kilometer. Alam secara alami memagari wilayah ini: di utara berdiri tegak Gunung Menggurah, sementara di sisi timur, Gunung Sarbo Langet dan Dataran Tinggi Karo menjadi pembatasnya. Di selatan dan barat daya, pegunungan Kluet atau Gunung Sambarimau menjaga lembah ini dengan kokoh.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.