C. De Haan 1870: 3. Flora, Fauna, dan Kehidupan Masyarakat Dataran Tinggi Batak

Bagian 3: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Kekayaan Flora dan Pemanfaatan Hutan Meski dataran tinggi didominasi ilalang, hutan masih sengaja dipertahankan di sekitar kampung untuk kayu bakar dan menutupi pegunungan (kecuali Gunung Piso-piso). Tanaman yang tumbuh meliputi anom, pepaya, rambutan (diekat), jeruk manis, nangka, degerat, berkul, embacang asam (bergong), jambu, serta kemiri yang minyaknya diperas untuk kebutuhan sehari-hari. Pisang dan durian tidak dapat tumbuh di sini.

Masyarakat sangat spesifik dalam memilah kayu: kayu bangunan menggunakan inggul, maranti, simburlangit, dan dedap; kayu bakar memakai Mayang dan Lubukabu; kayu untuk tombak menggunakan ageng dan delit; sedangkan gagang pedang dari traspialei atau tambatua. Bambu hanya ada dua jenis (betong dan bulunipis). Untuk pangan dan industri, ditanam padi, jagung, ubi (gadung), mentimun, labu (ritik), talas (sukat), gandum-ganduman (chingkeru, dawa), serta tanaman nila. Kopi tumbuh subur namun diabaikan, tebu layu, sedangkan di wilayah Dusun banyak ditemukan bira, sukun, dan kapas.

2. Fauna dan Peternakan Penduduk Dataran tinggi ini bebas dari harimau, gajah, dan badak, meski banyak ular kecil berbahaya di lereng pegunungan. Untuk peternakan, sapi dimiliki oleh segelintir orang kaya dalam kawanan besar (60 hingga 300 ekor) untuk konsumsi dan membajak sawah. Babi dipelihara dalam jumlah kecil oleh hampir semua warga dan menjadi lauk utama bersama daging sapi. Kuda sangat jarang; biasanya dibeli muda dari Toba untuk dijual ke Deli saat dewasa. Uniknya, hanya kuda curian yang disembelih untuk dimakan demi menghilangkan jejak. Unggas yang banyak ditemui hanyalah ayam, sementara bebek dan merpati sangat langka.

3. Iklim, Geografi, dan Ketahanan Kesehatan Udara dataran tinggi sangat segar dan minim rawa, menandakan iklim yang sehat. Kekeringan jarang terjadi. Musim hujan dimulai pada pertengahan November/Desember, dengan puncak badai dahsyat selama sepuluh hari di bulan Juli. Penyakit umum yang diderita adalah demam, sakit pinggang, pilek, serta penyakit kulit parah (tampak seperti jamur abu-abu) yang diduga akibat buruknya kebersihan dan pola makan.

Meskipun vaksinasi tidak dikenal, penyakit cacar tidak pernah menembus wilayah ini berkat sistem karantina tradisional yang ketat; warga akan menutup akses desa jika wabah melanda dataran rendah (Dusun). Namun, saat itu kepanikan tengah melanda karena cacar mulai mewabah parah di seberang danau Toba.

4. Rute Perdagangan dan Tradisi Penampilan Fisik Jalur transportasi di wilayah ini hanyalah jalan setapak tak beraspal yang melintasi dataran, berfungsi sebagai rute perdagangan kuda dan hasil bumi menuju Serdang, Senembah, Deli, hingga Langkat.

Kesan pertama terhadap rupa penduduknya adalah wajah yang keras, cepat menua, dan lapuk, meski pengamatan lebih dekat memancarkan ketangguhan dan pesona tersendiri. Masyarakat Batak di sini lebih mengutamakan perhiasan daripada perawatan kulit. Wajah anak-anak sering dilumuri kapur putih sebagai obat. Sebagai bentuk riasan, mereka mengoleskan ludah sirih (merah) di dahi hingga dada, serta kunyit (kuning) di wajah karena melambangkan warna emas.

Tangan para wanita sering berwarna kebiruan akibat bekerja dengan pewarna nila. Standar kecantikan lainnya adalah tradisi mengikir gigi hingga rata dengan gusi pada usia 12-13 tahun bagi pria dan wanita. Hal yang sangat unik adalah fenomena kebotakan yang banyak menimpa para wanita; untuk menyiasatinya, para suami sengaja memanjangkan rambut mereka lalu memotongnya untuk diberikan kepada sang istri sebagai penutup kepala.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.