Bagian 4: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Kesederhanaan Busana Sehari-hari Pakaian masyarakat Batak dataran tinggi sangatlah sederhana, terbuat dari kain katun tenunan sendiri. Para pria melilitkan kain di pinggul; penggunaan celana atau sarung yang dijahit sangat jarang dan merupakan pengaruh Melayu. Tubuh bagian atas kadang ditutupi baju (penulis bahkan pernah melihat satu yang terbuat dari kulit siamang). Kepala mereka ditutupi “jilbab” kain, atau jika tidak ada, diganti dengan ikatan jerami, tali, maupun dedaunan segar. Wanita berpakaian serupa dengan kain pinggul dan penutup dada. Untuk penutup kepala, baik pria maupun wanita menggunakan selendang gedang tangkei (atau tongkei gedang bagi wanita) yang dibentuk melingkar anggun seperti kerucut lada, meski mereka sering juga beraktivitas tanpa penutup kepala.
2. Ragam Perhiasan dan Mahakarya Pengrajin Perak Bagi masyarakat Batak, perhiasan sangatlah penting. Para wanita (khususnya di Karo dan Dusun) mengenakan cemberak (anting perak besar) dan padong-padong—hiasan kawat perak halus yang melengkung dari atas telinga hingga ke kepala. Padong-padong ini adalah keharusan bagi wanita dan tidak pernah dilepas hingga ajal menjemput. Wanita dan anak-anak juga mengenakan kalung buraboura, yang dirangkai dari kenop perak berongga, manik-manik, koin tembaga, cangkang kerang, hingga sayap serangga. Jari mereka dihiasi banyak cincin perak halus yang bergemerincing karena berisi batu kecil.
Para pria pun memiliki ornamen khas. Mereka mengenakan gelang lengan dari kawat perak yang dililitkan sembilan kali dan tidak pernah dilepas seumur hidup. Di daerah Purba—yang pengrajin peraknya jauh lebih mahir dibanding pandai besi Karo—penulis melihat hiasan kepala pria (mainan) berupa dua belas baris rantai perak dan suasa. Ujung rantai ini diikat ke rambut, sementara ujung lainnya berupa taring babi hutan berisi jimat yang diselipkan di sisi kiri penutup kepala.
3. Karakter Terbuka dan Sorak-Sorai Penyambutan Berbeda dengan orang Melayu, masyarakat Batak memiliki karakter yang sangat terbuka. Pria, wanita, dan anak-anak berbaur tanpa ragu, mendekati rombongan dengan rasa ingin tahu yang tinggi namun tidak mengganggu. Kedatangan ekspedisi selalu disambut meriah. Di desa Suka dan Barudahei, rombongan disambut dengan tembakan senapan kehormatan. Di balai desa (balei), mereka disuguhi jeruk dan tuak sambil menyaksikan tarian penghormatan dari para wanita yang diiringi sorakan serentak, “Halu halei!” (Mari kita berteriak!) yang dijawab paduan suara, “Hei! Hei!”.
4. Kunjungan Akbar di Siberaya Kemegahan tradisi penyambutan mencapai puncaknya saat rombongan menetap di Siberaya. Rombongan menerima kunjungan besar dari kampung-kampung sekitar yang diumumkan lewat suara tembakan dari kejauhan. Para kepala suku datang di bawah naungan payung kebesaran (payong), diiringi musik dan membawa persembahan hewan ternak (terkadang diganti secara simbolis dengan bangkai berhias daun). Acara dilanjutkan dengan tarian massal yang diikuti 20 hingga 30 penari sekaligus. Setelah itu, para kepala suku duduk beralas kulit sapi, bertukar kapur sirih, dan saling melempar pujian. Saking meriahnya dan ditambah rasa penasaran penduduk lokal, kerumunan yang berkumpul di Siberaya saat itu diperkirakan mencapai tiga hingga empat ribu orang.