C. De Haan 1870: 6. Mitologi Penciptaan, Kepercayaan, dan Praktik Spiritual Batak Karo

Bagian 6: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Kisah Tiga Dewa dan Penciptaan Bumi Menurut mitologi Batak Karo (Battakkers), di surga awal mula bertahta seorang ayah bernama Umpang Utara Guru dan ibu bernama Butara. Mereka memiliki tiga putra: Tuan Bunea Koling (sulung), Tuan Samsah Hienei (tengah), dan Tuan Paduka NiAji (bungsu). Sang ayah menanyakan permintaan mereka. Tuan Bunea Koling meminta tawar (obat segala penyakit). Tuan Samsah Hienei meminta perminákan beganding tua (minyak bertuah untuk perang dan agar doanya terkabul). Tuan Paduka Niaji meminta Pengkabakkabak (kekuatan pemanggil angin).

Setelah mengabulkannya, sang ayah menanyakan tempat tinggal mereka. Si Sulung memilih tinggal di “lantai atas” (langit). Si Tengah memilih tinggal di “tengah” untuk membangun kota, lalu sang ayah menggantungnya agar tidak jatuh; tempat itulah yang kelak menjadi bumi. Namun, bumi yang digantung itu terombang-ambing oleh angin kencang. Atas rintihan Si Tengah, sang ayah mengirimkan segenggam tanah (yang membesar menjadi semangkuk penuh saat turun) untuk menstabilkan bumi tempat Si Tengah berpijak.

Sementara itu, Si Bungsu memilih tinggal di “lantai bawah” (Batang Turuh/Dunia Bawah). Karena bumi menutupi pandangannya ke arah sang ayah di langit, Si Bungsu meminta ayahnya menyebarkan bumi (buat ancoer). Sang ayah meniupkan angin hingga bumi berserakan. Si Tengah menangis dan memohon kepada ayahnya, yang kemudian kembali mengirimkan dua genggam tanah yang berubah seukuran piring penuh. Proses penghancuran dan pembentukan ini berulang tujuh kali hingga bumi berbentuk seperti sekarang.

Konflik memuncak ketika Si Bungsu kembali ingin menghancurkan bumi. Si Tengah merespons dengan menusuk Si Bungsu menggunakan pedang baja menembus bumi hingga ke dunia bawah. Untuk menguatkan bumi, Si Tengah menancapkan delapan pilar besi, meletakkan batu-batu besar di atasnya, lalu melapisinya dengan berbagai jenis tanah.

2. Asal-Usul Flora, Fauna, dan Bencana Alam Setelah bumi stabil, Si Tengah membangun rumah bernama Si-lindung buah dan mengambil seorang wanita misterius menjadi istrinya. Suatu hari, seekor ayam terbang dan hinggap di atap rumah mereka. Sang istri memukul ayam itu dengan setrika hingga mati. Ayam yang mati itu, disebut manuk Krèjan-Krijan, secara gaib berubah menjadi berbagai elemen dunia: kepalanya menjadi hulu balang (berhala); paruhnya menjadi penjabaw (yaitu alat kecil yang digunakan oleh para perajin emas dan perak.); temboloknya menjadi mangkuk emas; perutnya menjadi emas dan perak murni; bulunya menjadi pepohonan; ekornya menjadi tebu; ususnya menjadi sumber pangan bergizi; bulu sayapnya menjadi tanaman obat salinjuang; kakinya menjadi obat tongkeir-sempilet; dagingnya menyatu dengan bumi; dan darahnya menjadi air.

Bumi pun semakin padat oleh keturunan Si Tengah. Namun, karena ia tidak memerintah dengan baik, Si Bungsu (yang ditikam tapi belum mati di dunia bawah) mengguncang pilar bumi sebagai peringatan, yang memicu terjadinya gempa bumi. Karenanya, saat gempa terjadi, penduduk lokal akan berteriak, “Suku-suku mat!” (Anggota Suku, berhenti!).

3. Sistem Kepercayaan, Sumpah, dan Peran Guru Masyarakat Batak tidak memiliki kuil atau pendeta, melainkan dipimpin oleh para Guru (tabib/ahli spiritual). Doa mereka selalu ditujukan kepada Tiga Dewa (Atas, Tengah, Bawah) secara bersamaan, tanpa menyebut orang tua dewa-dewa tersebut.

Sistem peradilan tradisional menggunakan sumpah suci. Pengambil sumpah akan memakan campuran beras mentah, garam, kunyit, lada hitam, air, dan tuak, lalu bersumpah: “Dengarlah, kalian bertiga… jika aku berbohong, biarlah beras, garam, kunyit, lada, air, dan tuak ini membunuhku.”

Pendidikan dilakukan secara privat oleh para Guru, yang terbagi menjadi tiga tingkatan:

  • Guru (Biasa): Mengajar baca-tulis aksara (biaya: sepotong emas/ drahan).
  • Guru Pakpak Pertandang: Ahli pengobatan, diagnosa penyakit (dari angin, bumi, air, atau roh), sihir, dan jimat (biaya: $3).
  • Guru Penawar: Ahli taktik perang dan kekebalan mistis.

4. Tradisi Pemanggilan Roh (Bégu) dan Asal-Usul Pengobatan Untuk penyakit berat yang tak tersembuhkan, para Guru akan melakukan ritual tipuan dengan memotong pohon pisang menyerupai orang sakit, mengkafaninya, lalu menguburnya dengan tangisan keras untuk mengelabui roh jahat.

Mereka percaya bahwa orang mati menjadi bégu (roh) yang menetap di rumah atau melayang di udara. Bégu—baik yang jahat maupun baik—dapat mengendalikan nasib manusia, menyebabkan penyakit, atau memberikan keberuntungan. Untuk berkomunikasi, seorang Guru akan memanggil bégu masuk ke tubuhnya melalui tarian, musik, dan persembahan sesajen.

Menurut tradisi lisan, praktik pemanggilan roh ini berasal dari mitos kuno tentang Saduaman, Si Raja bulan (Barat), dan Si Raja Bulan Pukultjàpi (Timur). Suatu ketika, Si Raja bulan tenggelam di laut demi menangkap seekor ayam gaib permintaan seorang wanita bernama Si Dayang. Untuk memberitahu ibu Si Raja bulan bahwa putranya telah tiada, Si Dayang memainkan gendang dan menari hingga bégu Si Raja bulan merasuki tubuhnya. Si Dayang pulalah yang pertama kali mengajarkan ritual sesajen (ikan, nasi rebus, pisang, bunga bungaraya, telur) yang dibawa ke atas bukit untuk memuaskan roh demi menyembuhkan penyakit dan rasa takut.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.