C. De Haan 1870: 10. Struktur Sosial Batak: Legenda Lima Marga, Sanina, dan Anakběru

Bagian 10: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Filosofi Lima Marga dalam Masyarakat Batak Kehidupan sosial masyarakat Batak sangat lekat dengan pembagian suku (marga) serta peran Sanina dan Anakběru. Pada dasarnya, terdapat lima marga utama. Dalam kelompok Karo-karo (Karo), marga tersebut adalah Ginting, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan, dan Karo-Karo. Sementara dalam kelompok Tébatěbasch (Toba), namanya adalah Muntei, Sinaga, (Nai) Suanon, Girsang, dan Nébàgho (Naibaho).

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 6. Mitologi Penciptaan, Kepercayaan, dan Praktik Spiritual Batak Karo

Bagian 6: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Kisah Tiga Dewa dan Penciptaan Bumi Menurut mitologi Batak Karo (Battakkers), di surga awal mula bertahta seorang ayah bernama Umpang Utara Guru dan ibu bernama Butara. Mereka memiliki tiga putra: Tuan Bunea Koling (sulung), Tuan Samsah Hienei (tengah), dan Tuan Paduka NiAji (bungsu). Sang ayah menanyakan permintaan mereka. Tuan Bunea Koling meminta tawar (obat segala penyakit). Tuan Samsah Hienei meminta perminákan beganding tua (minyak bertuah untuk perang dan agar doanya terkabul). Tuan Paduka Niaji meminta Pengkabakkabak (kekuatan pemanggil angin).

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.