P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 9
Industri kerajinan pribumi di wilayah ini tergolong tidak signifikan. Aktivitas utamanya terbatas pada penenunan kain-kain Batak oleh kaum wanita, serta pengerjaan besi, tembaga, perak, dan emas oleh kaum pria. Dalam hal arsitektur rumah, terlihat sedikit sekali cita rasa seni. Perhiasan emas dan perak juga sangat jarang ditemukan; para kepala wilayah yang berkedudukan tinggi maupun rakyat jelata pada umumnya berpakaian sangat sederhana. Hadiah-hadiah kecil seperti jam tangan, kain Jawa, potongan kain laken biru, lampu, senapan tromplaad, cermin, dan berbagai pernak-pernik murah yang kami bawa sebagai barang hadiah, diterima dengan sangat gembira, bahkan oleh para tokoh terkemuka.
Penduduk di sini umumnya miskin. Mereka hidup terutama dari hasil ladang dan perdagangan produk-produk hutan. Mereka tidak memiliki hewan ternak, dan sangat sedikit memiliki perabotan rumah tangga, pakaian, atau kepemilikan lainnya, serta tidak memiliki uang tunai. Perdagangan masih sangat terhambat oleh ketiadaan pasar di pedalaman. Yang disebut pasar, atau onan dalam bahasa Batak (hari pasar setiap empat hari sekali), sama sekali tidak ditemukan di daerah ini, sebuah fenomena yang aneh di negeri yang dihuni oleh suku Batak. Di wilayah Toba lainnya, di Si Lindung, dan tempat-tempat lain, kecuali di beberapa daerah hutan, di hampir semua lanskap yang memiliki signifikansi tertentu, terdapat pasar di mana penduduk dari seluruh penjuru berkumpul untuk saling menukar produk mereka.
Pasar-pasar ini memiliki sisi positif lainnya; mereka mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah dan mencegah isolasi yang terlalu besar antara penduduk dari berbagai lanskap. Di daerah hutan seperti Si Balungun, penduduk hidup sepenuhnya terisolasi satu sama lain. Permukiman dan kampung seringkali terletak berjauhan, dan sebagian besar waktu dihabiskan secara terasing di ladang-ladang. Gaya hidup seperti ini memiliki pengaruh besar pada karakter individu, ditambah lagi dengan keberadaan terus-menerus di hutan-hutan tropis yang suram. Memang merupakan sebuah fakta bahwa suku Batak yang mendiami daerah hutan, misalnya dari Habinsaran, dari Dataran Tinggi Baros, dari Nai, Paspas, dan lain-lain, dan tentu saja juga mereka dari Si Balungun, memiliki sifat yang jauh lebih kejam dan liar daripada mereka yang mendiami tepian Danau Danau Toba, Lembah Si Lindung, atau dataran tinggi yang terbuka.
Selain perdagangan kapas yang dilakukan oleh penduduk Girsang, Sipangan Bolön, dan Dolok Paribuan dengan wilayah Toba yang sebenarnya, perdagangan dalam negeri sepenuhnya mengarah ke Pesisir Timur. Sejak aneksasi ke dalam wilayah Pemerintah dan pengakuan atas kedaulatan kita, para pedagang Melayu dari pesisir dapat dengan bebas mengunjungi daerah-daerah pedalaman Batak, dan mereka memanfaatkannya dengan luas. Selain produk-produk hutan, lada, dan tembakau, perdagangan juga ramai untuk hewan ternak kecil, seperti kambing, babi, dan ayam, yang dijual dengan harga tinggi di perkebunan-perkebunan (estates) di dataran rendah, baik di sub-divisi Padang Bedagai maupun di Batu Bara.