Van Vuuren 1910: 15. Menembus Jalur Ekstrem Pakpak: Mitos Batu Kerbau dan Legenda Kutukan di Tengah Hutan Purba

Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.

Urat nadi kehidupan yang menghubungkan wilayah Tanah Pakpak yang terisolasi dengan dunia luar pada masa lalu bertumpu pada jaringan jalan setapak kuno. Jalur-jalur ini membentang ke segala arah mata angin, menghubungkan satu marga dengan marga lainnya, serta membuka jalan menuju wilayah pesisir. Namun, jangan bayangkan jalan yang landai; hampir semua rute ini adalah jalur pegunungan yang sangat ekstrem, terjal, dan penuh dengan ujian fisik maupun mental.

Mari kita ikuti salah satu rute legendaris yang membentang dari wilayah barat laut menuju pedalaman: Jalur dari Pankalan Beski dan Sara menuju Tutung Batu, Batu Redan, dan Sidikalang.

Gerbang Niaga di Pertemuan Arus

Perjalanan kita dimulai dari dua pos perdagangan utama milik masyarakat Pakpak Kepas, yakni Pankalan Beski dan Pankalan Sara. Kedua pangkalan ini terletak di hulu sungai yang senama dengan posnya. Aliran air dari Sungai Beski dan Sungai Sara ini kemudian bertemu di Muara Beski, mengalir deras menjadi Sungai Batu Batu, dan bermuara di Simpang Kiri dekat daerah Rundeng.

Bagi penduduk sekitar, sungai-sungai ini adalah jalan tol air menuju wilayah Rundeng dan Singkil. Sementara itu, bagi mereka yang memilih menempuh jalur darat, mereka harus berjalan kaki memutar melewati Pankalan Belegen dan wilayah Kumbi.

Tanjakan Pembuka dan Mitos Sang Kerbau Batu

Bagi para pejalan kaki yang berangkat dari daratan Pankalan Beski, ujian langsung menghadang. Jalan setapak seketika menanjak tajam, memaksa para pelancong mendaki punggung gunung yang membelah dua mata air hulu Sungai Beski. Setelah perjalanan mendaki yang sangat melelahkan dan menguras tenaga, mereka akan tiba di pos peristirahatan pertama yang disebut Adian Namuk.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan melewati pos Adian Saba. Setelah sekitar tiga setengah jam membelah hutan, para pelancong akan disuguhkan sebuah pemandangan mistis: sebuah batu raksasa yang teronggok di tengah hutan, tepat di sisi jalan setapak. Penduduk lokal menyebutnya Batu Horbo.

Batu ini memiliki bentuk yang menyerupai seekor kerbau. Menurut kepercayaan masyarakat Pakpak, batu tersebut memang jelmaan kerbau yang membatu. Ada sebuah ritual takhayul yang selalu dilakukan di sini: setiap orang Pakpak yang melintas wajib memetik beberapa helai daun segar dan melemparkannya ke atas batu tersebut. Ritual ini dipercaya dapat menolak bala dan mencegah kecelakaan selama menempuh kerasnya medan pegunungan. Akibatnya, permukaan Batu Horbo selalu tertutup oleh tumpukan selimut daun hijau.

Pondok Daun dan Puncak Menawan Pantjenarin

Melewati pos Adian Belang, pelancong akan menemukan sebuah tempat berlindung bernama Sopo Lak Lak. Ini bukanlah bangunan mewah, melainkan hanya sebuah gubuk kecil sederhana yang terbuat dari jalinan dedaunan pohon, didirikan di dekat aliran air kecil yang jernih. Gubuk ini adalah penyelamat nyawa bagi para pelancong dari wilayah Kepas yang kemalaman di jalan, atau bagi mereka yang terlambat berangkat dari Pankalan sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan di tengah gelapnya hutan.

Meninggalkan Sopo Lak Lak, medan jalan menjadi semakin kejam dan menanjak sangat curam. Namun, segala kelelahan itu akan terbayar lunas ketika pejalan kaki tiba di Deleng Pantjenarin. Ini adalah titik tertinggi di rute tersebut. Dari puncak ini, mata akan dimanjakan oleh pemandangan Dataran Singkil yang membentang menakjubkan di bawah sana.

Kisah Kelam di Balik Batu Merombah Ombah

Setelah puas menikmati pemandangan dan menuruni jalur melewati pos Adian Sara Tua selama kurang lebih dua jam, pejalan kaki akan tiba di sebuah situs yang menyimpan legenda kelam: Batu Merombah ombah.

Situs ini terdiri dari dua buah batu kecil yang letaknya saling berhadapan di lereng gunung. Di balik batu bisu ini, beredar cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun. Konon, kedua batu itu adalah jelmaan seorang wanita Pakpak dan seorang pria asal Singkil.

Dikisahkan bahwa wanita Pakpak tersebut sedang dalam perjalanan menuju Pankalan untuk menjual beras. Di Puncak Pantjenarin, ia berpapasan dengan pria Singkil yang membawa emas dan bersedia membeli berasnya. Sang pria kemudian mencoba merayu wanita tersebut. Awalnya sang wanita menolak dan memilih berbalik arah kembali ke tempat ini. Namun, sang pria terus mengejar dan merayunya hingga akhirnya wanita itu goyah dan menyerah pada godaan.

Sebagai hukuman kosmik atas perbuatan zina antara seorang pria Muslim dari pesisir dengan seorang wanita Batak dari pedalaman, alam pun mengutuk mereka berdua. Tubuh mereka seketika berubah menjadi batu, membeku abadi saling berhadapan di lereng gunung tersebut.

Akhir Perjalanan yang Panjang

Perjalanan yang menguras emosi dan tenaga ini belum usai. Rute terus membentang jauh ke arah timur. Bagi para pedagang dan kuli yang memikul beban sangat berat dari wilayah Tutung Batu menuju Pankalan, perjalanan ini bisa memakan waktu hingga dua hari penuh (atau belasan jam berjalan kaki tanpa henti).

Untuk menyambung napas, mereka biasa menargetkan untuk beristirahat di pos Kumbangan. Di area hutan yang telah dibersihkan ini, terdapat dua gubuk kecil di dekat aliran air, yang setia menawarkan tempat bernaung bagi raga-raga yang kelelahan setelah menaklukkan ganasnya alam Tanah Pakpak.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.