Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.
Melanjutkan perjalanan yang menguras tenaga dari arah pesisir, setelah menempuh waktu tujuh jam lebih jauh, pejalan kaki akan tiba di sebuah persimpangan di mana jalur dari Pankalan Sara menyatu dengan jalur utama. Dari titik ini, medan terus menanjak membelah hutan lebat hingga akhirnya tiba di titik tertinggi pendakian: Puncak Deleng Bubun.
Dari puncak ini, jalan setapak terbagi. Jika mengambil arah timur laut, jalur akan mengarah ke Gemuntur. Namun, jika pelancong memilih terus ke arah timur, mereka akan menuruni Deleng Bubun, menyeberangi aliran sungai Lai Sebung Karas, dan akhirnya tiba di sebuah desa yang cukup besar di wilayah Kepas bernama Tutung Batu tepat menjelang malam hari.
Legenda Beras Menjadi Emas dan Ritual Penolak Bala
Puncak Deleng Bubun bukanlah sekadar titik tertinggi secara geografis, melainkan juga tempat bernaungnya mitos lokal yang memikat. Konon, di tempat ini beras bisa berubah menjadi emas.
Kisah ini bermula di masa lalu ketika sekolompok orang dari Tutung Batu kembali dari Pankalan dengan kondisi sangat kelelahan. Mereka memutuskan untuk meninggalkan beras bawaan mereka di Deleng Bubun dengan niat akan mengambilnya kembali keesokan paginya. Di saat yang sama, sekelompok orang dari Gemuntur melintas. Mereka membawa emas, tetapi kehabisan perbekalan. Melihat ada beras yang ditinggalkan, orang-orang Gemuntur itu mengambilnya untuk bertahan hidup, dan sebagai gantinya, mereka meletakkan sedikit emas di tempat tersebut. Saat orang-orang Tutung Batu kembali esok harinya, mereka takjub melihat beras mereka “berubah” menjadi emas.
Selain legenda emas, kawasan pinggiran jalan setapak yang mengarah ke sisi Singkel ini dipercaya menjadi tempat bersemayamnya roh-roh jahat pembawa penyakit. Untuk melindungi diri, masyarakat adat memiliki sebuah ritual penolak bala yang unik. Mereka akan membelah ujung sebuah tongkat kecil, menancapkannya ke tanah, lalu menyisipkan dedaunan segar yang baru dipetik ke celah tongkat tersebut. Di sepanjang jalur menuju dataran, pelancong bisa melihat puluhan tongkat daun ini berdiri berjejer, menjadi saksi bisu dari takhayul dan kearifan lokal dalam menjaga keselamatan perjalanan.
Menuju Huta Bukit dan Pesona Magis Lao Renun
Setelah bermalam di Tutung Batu, perjalanan di hari berikutnya berlanjut melewati kampung-kampung Kepas seperti Perongil dan Huta Ekur menuju daerah Jandi. Di sini, pelancong harus menyeberangi ngarai Lai Sinbelen yang curam sebelum kembali mendaki ke titik pembatas air (daerah aliran sungai) antara Lai Sinbelen dan Lao Renun, yang disebut Adian Deleng Jandi.
Satu jam kemudian, melintasi punggung gunung yang relatif mudah, tibalah di Adian Belang. Dari sini, jalur perlahan menurun menyusuri sungai Lai Pakpak yang bermuara ke sungai utama Lao Renun. Tak lama berselang, rimbunnya hutan purba pun berakhir, menyambut pelancong di Huta Bukit, kampung Karo pertama di jalur ini.
Pemandangan dari Huta Bukit sungguh menakjubkan, memperlihatkan lembah Lao Renun dari ketinggian. Melanjutkan perjalanan melewati Lao Pakpak dan Tumppa At Debata, pelancong akan tiba di tepi Sungai Lao Renun dalam waktu dua jam. Jalur turunannya memang sangat curam dan menyiksa, namun semua kelelahan itu terbayar lunas. Di dasar lembah, pelancong disuguhi panorama ngarai batu yang sempit tempat air Lao Renun mengamuk deras. Di sebelah kiri, sebuah pemandangan megah melengkapi lukisan alam tersebut: air terjun besar dari aliran Lai Kinapan yang terjun bebas ke sungai utama.
Dua Jalur Pilihan: Batu Redan atau Sidikalang
Dari lembah Lao Renun, jika pelancong menyeberangi batas aliran air menuju Lai Belulus dan berjalan menyusuri ladang-ladang yang indah, mereka akan tiba di pusat pemukiman masyarakat Karo, yakni kampung besar Batu Redan di tepi kiri sungai, dengan Huta Pinang tepat di seberangnya.
Namun, ada rute alternatif yang tak kalah penting. Jika dari Tutung Batu pelancong memilih berjalan lurus ke arah barat membelah Dataran Tinggi Kepas, mereka bisa mencapai Sidi Kalang (Sidikalang) pada tengah hari.
Pada masa kolonial, jalur ini mulai dibangun menjadi jalan selebar 3 meter yang bisa dilalui kuda. Rutenya melewati Huta Ekur dan Perongil, lalu menyeberangi sungai Lai Perongil dan Lai Panontja di dalam hutan. Begitu keluar dari hutan tersebut, Dataran Tinggi Kepas akan membentang luas di hadapan mata. Berbeda dengan hutan yang suram, dataran ini adalah hamparan padang rumput alang-alang yang sangat luas. Di sebelah kanan menjulang Pegunungan Pemisah Singkil, di sebelah kiri berderet pegunungan pembatas Lao Renun, dan tepat di depan mata berdiri kokoh puncak terasing, Si Tanduk.
Setelah dua jam menyusuri padang rumput, pelancong akan kembali bertemu dengan sungai Lai Simbelen yang memiliki formasi batuan unik yang sudah terlihat dari kejauhan. Dengan menyeberang ke tepi kanan sungai tersebut, sampailah di pemukiman Kaban Julu. Dari sana, dengan melewati Onan Buluh dan Kenepen selama dua setengah jam, pelayaran darat ini pun berakhir di Sidikalang, tempat kedudukan pemerintahan dan pusat konfirmasi administratif berdiri.