Bagian 15: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Empat Fase Pesta Pertanian Batak Siklus pertanian padi masyarakat Batak selalu diiringi oleh empat perayaan (feesten).
Pesta Pertama (Membuka Lahan): Ketika musim tanam tiba, pria dan wanita pergi ke ladang dengan membawa satu gantang beras per orang. Di sana, mereka bersepakat dengan sesama warga desa atau desa tetangga untuk bergotong royong membalikkan tanah rumput (plaggen). Setelah kesepakatan tercapai, mereka kembali ke salah satu kampung, menumbuk beras yang dibawa menjadi tepung, mencampurnya dengan air dan garam, lalu memakannya bersama. Puncak keseruannya adalah saat para pemuda dan pemudi saling mengusapkan sisa tepung ke wajah satu sama lain dengan penuh canda tawa, sementara pria dan wanita yang sudah menikah dilarang ikut campur di area lesung. Setelah itu, pemuda dan pemudi mandi di tempat terpisah. Saat kembali, para gadis telah menghias diri dengan bunga, dedaunan hijau, dan melumuri wajah mereka dengan kunyit kuning. Pesta pembuka ini berlangsung selama satu hari.
Pesta Kedua (Arowan / Pesta Utama): Pesta ini digelar setelah pekerjaan membalik tanah selesai dan kerja bakti komunal dihentikan sementara. Berlangsung selama dua hari, hari pertama diisi dengan penyembelihan kerbau, sapi, atau babi yang disumbangkan oleh Pengulu dan warga kampung. Pagi harinya, jamuan makan besar diadakan di tanah lapang, dilanjutkan dengan jamuan di rumah-rumah pada malam harinya. Pada sore hari kedua, para pemuda menyantap lěsoengtjiempo (hidangan dari tepung beras, kelapa, gula, dan lemak). Selesai makan, mereka saling menyemburkan makanan tersebut dalam suasana riuh, lalu pergi ke ladang sekadar pura-pura membalik tanah (voor de leus) sebelum mandi bersama. Selama dua malam berturut-turut, para pemuda menghabiskan waktu bersama para gadis, sementara orang yang sudah menikah bertugas berjaga dan memastikan api tungku tetap menyala.

Pesta Ketiga dan Keempat: Pesta ketiga adalah jamuan makan bersama setelah proses penanaman bibit selesai. Pesta keempat adalah pesta panen (oogstfeest). Di wilayah Tenggieng, pesta panen ini adalah perayaan terbesar. Tamu dari kampung-kampung sahabat berdatangan. Kerbau-kerbau dihias dengan kain linen, dedaunan, dan bunga, lalu diarak keliling sebelum akhirnya disembelih beramai-ramai menggunakan tombak (lansen) dalam sebuah perlombaan. Pesta ini diwarnai dengan kegiatan saling berkunjung dan menjamu antar warga yang bisa berlangsung selama sebulan penuh.
2. Tradisi Pemakaman Umum dan Pemakaman Pemimpin Di luar marga Sembiring, masyarakat biasa dikuburkan di pemakaman umum dengan dibungkus tikar dan kain linen putih (atau kain apa pun yang tersedia jika kain putih tidak ada). Pemakaman orang kaya dilakukan dengan meriah: diiringi tembakan senapan, musik, prosesi pelayat, dan jamuan makan. Tamu dari desa lain akan menginap satu atau dua malam, dan kerabat mendapat tanda mata.
Namun, perlakuan berbeda diterapkan pada triumvirat pemimpin (Pengulu, Sanina, Anakberoe). Jenazah mereka tidak dikubur, melainkan dimaSukan ke dalam peti yang ditutup sangat rapat dan disandarkan ke dinding, baik di dalam maupun di luar rumah. Sebuah pipa bambu ditancapkan menembus dasar peti hingga sedalam satu ell (hasta) ke dalam tanah untuk menyalurkan cairan jenazah. Jenazah hanya ditaburi sedikit kapur barus (kamper), dan anehnya, tidak ada bau busuk yang tercium di dalam rumah.
Penyimpanan peti ini memakan biaya besar, karena setiap bulan selama empat bulan berturut-turut, keluarga harus mengadakan pesta dan jamuan makan sehari penuh untuk warga kampung dan orang asing. Setelah jenazah disimpan selama satu tahun, tulang-belulangnya dikeluarkan dari kampung dan diletakkan di dalam peti kayu kecil di atas tiang beratap. Tulang-tulang pemimpin ini tidak pernah ditanam di tanah, meski peti kayunya sering kali hancur termakan usia (seperti yang terlihat di dekat Dankan, di mana tengkorak dan tulang berserakan di sisa dasar peti di atas tiang). Kadang-kadang, peti tulang ini diukir, dicat, dan disimpan di dalam kampung atau di atas balei (balai). Jika keluarga pemimpin tidak punya biaya untuk ritual ini, jenazah terpaksa dikuburkan seperti orang biasa.
3. Pemakaman Sang Goeroe dan Perjalanan Roh Seorang goeroe (dukun/pendeta) dikuburkan tanpa peti, dibalut pakaian putih, dan didudukkan dengan posisi lutut tertekuk. Sebuah piring terbalik diletakkan di atas kepalanya, dan hidangan makanan disajikan di depan lututnya. Di atas makamnya, ditanam pisang abu, boeloeminjak, daun salindjoeang, dan tangkei-sempieliet (tanaman obat). Pesta perpisahan dengan musik, tembakan senapan, dan jamuan digelar selama tiga hari.
Masyarakat percaya bahwa roh (kesak) sang goeroe akan naik menuju Bapa dari “Tiga” (Dewa), tempat segala kebahagiaan berada. Namun, mereka tidak tahu apakah perbuatan di dunia akan dihukum atau dihargai di sana. Bagi orang biasa yang bukan goeroe, kematian dianggap sebagai akhir, meskipun roh mereka bisa berubah menjadi Begu (hantu).
4. Ritual Kremasi Marga Sembiring dan Pesta Pakoealoeh Khusus untuk marga Sembiring, adat mewajibkan jenazah dibakar (kremasi). Di wilayah Soekapiring, aturan ini ditaati dengan ketat. Jika keluarga miskin terpaksa menguburkan jenazahnya, roh orang mati itu (Begu) akan marah dan mendatangkan penyakit seperti sakit perut dan muntah-muntah kepada keturunannya. Goeroe akan memanggil Begu tersebut untuk merasukinya. Jika sang Begu merasa sesak napas di dalam tanah dan meminta dibakar, maka kuburan harus digali dan jenazahnya dibakar.
Kremasi dilakukan di tanah lapang dekat kampung dan disaksikan banyak orang. Jenazah diletakkan di tengah tumpukan kayu khusus bernama dauwkoen, pada sepertiga tinggi tumpukan. Saat api menyala, kerabat berseru, “Terbakarlah dengan cepat, agar ombak segera membawamu!” hingga jenazah menjadi abu. Abu ini disimpan di dalam guci untuk perayaan Pakoealoeh. (Namun, pengecualian berlaku bagi goeroe dari marga Sembiring yang tetap dikubur utuh, serta Pengulu Sembiring yang jenazahnya disimpan di peti selama setahun sebelum abunya dibakar di bukit Kalaban dekat Siberaya saat Pakoealoeh).
Pesta Pakoealoeh: Ini adalah festival keagamaan terbesar dan terpenting bagi marga Sembiring, yang berlangsung selama satu bulan penuh dan mewajibkan gencatan senjata total di Soekapiring serta wilayah barat dan timurnya. Waktu pelaksanaannya bergeser maju satu bulan setiap tahunnya. Pesta ini berpusat di dataran Siberaya dan dihadiri ribuan orang, termasuk dari wilayah doesoen Děli (meskipun wilayah Toba/Tebatěba tidak merayakannya).
Puncak Pakoealoeh adalah pelarungan abu jenazah ke tempat peristirahatan roh. Abu dimaSukan ke dalam miniatur kapal berbahan papan kayu sepanjang tujuh esta (sekitar tiga ell). Kapal ini berbentuk tajam di ujungnya dengan haluan berukir kepala singa. Di atas kapal, dilukis gambar orang-orang yang meninggal, dan guci abu ditempatkan di bawah gambar masing-masing. Di tiang kapal digantung senjata, pakaian, emas, dan perak milik mendiang. Kapal ini kemudian diarak sebelum diletakkan di atas rakit bambu. Sebelum dilarung, barang-barang berharga di tiang kapal diambil kembali, dan kapal diisi dengan berbagai makanan. Dua puluh atau lebih rakit kapal (satu kapal mewakili satu sub-suku) kemudian dihanyutkan ke sungai. Tujuannya adalah sebuah tempat gaib jauh di seberang lautan yang mereka sebut sebagai Sanggarpoera atau Sanggarapi (atau “Mekkah”, namun bukan Mekkah umat Islam).
Menurut kepercayaan, tradisi ini berasal dari wahyu seorang Begu kepada seorang goeroe di masa lalu, yang memerintahkan kremasi dan mengungkapkan nama tempat peristirahatan roh tersebut.