Bagian 17: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Aksara Karo-Batak dan Mantra Pemanggil Roh Sistem penulisan masyarakat Karo-Batak menggunakan alfabet yang terdiri dari 19 huruf utama.

Bagian 17: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Aksara Karo-Batak dan Mantra Pemanggil Roh Sistem penulisan masyarakat Karo-Batak menggunakan alfabet yang terdiri dari 19 huruf utama.

Bagian 17: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Perceraian dan Hukum Jual-Beli Istri Dalam adat Batak, perceraian dapat terjadi melalui kesepakatan bersama yang disertai dengan pengembalian uang mas kawin (koopprijs). Begitu Pengulu mengucapkan putusan, perceraian langsung sah tanpa ada masa pisah ranjang sementara. Anak-anak biasanya mengikuti ayah, namun bisa juga disepakati untuk tinggal bersama ibu. Meskipun bukan adat baku, terkadang dengan persetujuan bersama (termasuk persetujuan istri), seorang suami dapat “menjual” istrinya kepada pria lain.
Bagian 16: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Aturan Poligami dan Pergeseran Posisi Istri Utama Dalam adat Batak pada masa itu, tidak ada batasan jumlah perempuan yang dapat dinikahi oleh seorang pria pada saat yang bersamaan; seorang pria bahkan bisa memiliki hingga sepuluh istri. Istri yang pertama kali dinikahi secara otomatis menempati posisi paling utama. Ia cukup disapa sebagai “yang tertua” dan, meskipun tidak menerima bentuk penghormatan seremonial khusus, ia bertindak sebagai kepala rumah tangga perempuan yang berhak mengatur segala pembagian pekerjaan. Namun, hierarki ini tidak bersifat mutlak. Jika sang suami di kemudian hari menikahi seorang wanita yang berasal dari keturunan atau kelas sosial yang lebih tinggi, maka istri baru tersebut berhak menggeser dan mengambil alih posisi istri pertama.
Bagian 15: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Empat Fase Pesta Pertanian Batak Siklus pertanian padi masyarakat Batak selalu diiringi oleh empat perayaan (feesten).
Pesta Pertama (Membuka Lahan): Ketika musim tanam tiba, pria dan wanita pergi ke ladang dengan membawa satu gantang beras per orang. Di sana, mereka bersepakat dengan sesama warga desa atau desa tetangga untuk bergotong royong membalikkan tanah rumput (plaggen). Setelah kesepakatan tercapai, mereka kembali ke salah satu kampung, menumbuk beras yang dibawa menjadi tepung, mencampurnya dengan air dan garam, lalu memakannya bersama. Puncak keseruannya adalah saat para pemuda dan pemudi saling mengusapkan sisa tepung ke wajah satu sama lain dengan penuh canda tawa, sementara pria dan wanita yang sudah menikah dilarang ikut campur di area lesung. Setelah itu, pemuda dan pemudi mandi di tempat terpisah. Saat kembali, para gadis telah menghias diri dengan bunga, dedaunan hijau, dan melumuri wajah mereka dengan kunyit kuning. Pesta pembuka ini berlangsung selama satu hari.
Bagian 14: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak
1. Profil Pedagang Batak Perdagangan di masyarakat Batak umumnya masih berskala kecil dan dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Tidak ada pemilik toko menetap atau pengepul besar. Para pedagang terbagi menjadi dua kelompok utama:
Bagian 12: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Rampasan Perang dan Jatuhnya Tahanan Menjadi Budak Salah satu konsekuensi paling mengerikan dari perang antar-kampung adalah perbudakan. Ketika sebuah kampoeng menelan kekalahan telak dan ditaklukkan, penduduknya akan melarikan diri membawa harta benda sebisanya. Segala yang tertinggal—tanah, rumah, dan barang—menjadi rampasan perang (buit) bagi pihak pemenang. Sementara itu, warga yang tertangkap akan disandera dan dituntut membayar uang tebusan (losgeld).
Bagian 11: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Pulau Tebah dan Kesaktian Raja Singa Maharaja Pulau Tebah poelow (Pulau Toba) tercatat sebagai wilayah yang sangat padat penduduknya dan terbagi ke dalam empat kerajaan kecil yang dipimpin oleh para Raja: Bekara, Purbatobak, Lòtòng, dan Pengoeloeran. Di antara para penguasa ini, penguasa Bekara yang bergelar Raja Singa Maharaja menempati posisi paling istimewa karena sangat dihormati oleh masyarakat Batak berkat kemampuan supranaturalnya.
Sang Raja berkedudukan di puncak gunung pulau tersebut dan diselimuti berbagai legenda. Konon, ia bisa bertahan tanpa makanan selama tujuh bulan, atau tertidur pulas hingga tiga bulan lamanya dengan kebutuhan yang dipenuhi langsung oleh para dewa. Ia digambarkan memiliki lidah yang ditumbuhi rambut dan berwarna hitam. Kesaktiannya meliputi kendali atas cuaca; ia bisa mendatangkan panas atau hujan sesuka hati, dan ke mana pun ia melangkah saat hujan, jalan yang dilaluinya akan tetap kering. Ia juga diyakini maha mengetahui segala ucapan dan perbuatan manusia.