P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 5
Asal-usul, Fisik, dan Karakter Penduduk wilayah Si Balungun/Simalungun (Simalungun) tergolong dalam suku Batak yang berasal dari berbagai daerah di pesisir Danau Danau Toba. Secara adat dan kebiasaan, mereka memiliki banyak kesamaan dengan penduduk pribumi danau tersebut. Meski demikian, terdapat perbedaan fisik yang nyata: pria Si Balungun/Simalungun umumnya memiliki perawakan yang lebih kecil dibandingkan pria Toba, namun baik pria maupun wanita memiliki kulit yang lebih terang dan penampilan yang dinilai jauh lebih baik daripada orang Toba.
Masyarakat Si Balungun/Simalungun sangat mengutamakan kebersihan tubuh. Pria, wanita, dan anak-anak terlihat bersih dan mandi beberapa kali sehari di pemandian yang dipisahkan secara ketat berdasarkan jenis kelamin. Hal ini berbeda drastis dengan kondisi di Toba, di mana pemandian campur aduk dan penduduknya umumnya dinilai kotor dalam laporan ini. Dalam hal kemampuan berbahasa, Melayu digunakan secara luas dan fasih oleh para kepala wilayah, serta dimengerti oleh rakyat jelata di banyak daerah. Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar utama antara pejabat pemerintah kolonial dan para kepala wilayah, bahkan di kampung-kampung.
Pernikahan, Poligami, dan Suksesi Poligami adalah hal umum di kalangan bangsawan, terutama para Raja dan Tuan terkemuka, yang memiliki banyak istri. Sebaliknya, rakyat jelata biasanya hanya memiliki satu istri. Sistem pernikahan mengharuskan mempelai pria membeli istri melalui pembayaran sinamat (maskawin), sama seperti di Toba, namun nilainya di Si Balungun/Simalungun umumnya tidak setinggi di Toba.
Adat menetapkan jumlah maskawin yang berbeda berdasarkan status sosial:
- Rakyat Jelata: 6 dolar jika suami tinggal di kampung istri; 12 dolar jika istri dibawa ke kampung suami (2 dolar untuk kepala kampung, 4 dolar untuk Raja/Tuan).
- Kepala Kampung dan Tuan Kecil: 30 dolar.
- Raja dan Tuan Berpengaruh: 200 dolar.
Gelar istri para kepala wilayah adalah Puang, dengan pangkat yang berbeda. Istri pertama Raja disebut Puang Bolon, sedangkan istri pertama Tuan disebut Puang Huta. Istri pertama haruslah putri seorang Raja atau Tuan, sedangkan Puang lainnya bisa berasal dari rakyat jelata.
Putra yang dilahirkan oleh Puang Bolon dipersiapkan menjadi penerus Raja. Jika tidak ada anak dari istri utama, suksesi beralih ke kerabat pria terdekat (saudara laki-laki atau paman) atau anak dari Puang dengan pangkat lebih rendah. Para Raja biasanya baru mengambil Puang Bolon pada usia lanjut (sekitar 30 tahun) dengan tujuan hanya mendapatkan satu putra, guna menghindari perselisihan internal di masa depan antar putra dengan pangkat setara.
Pakaian, Perhiasan, dan Senjata Gaya berpakaian pria telah hampir sepenuhnya mengadopsi gaya Melayu, terdiri dari baju katun, kain (sarung) katun, dan destar. Penggunaan celana dilarang, setidaknya di Tanah Uawa dan Siantar; bahkan orang asing dilarang memasuki rumah para Raja dengan mengenakan celana panjang. Pria juga sering mengenakan kain tenun lokal berwarna biru tua (hio) buatan istri mereka, yang tidak memiliki variasi warna atau model seperti di Toba. Selain destar, pria sering mengenakan berbagai jenis topi bundar berwarna-warni. Perhiasan pria terbatas pada cincin jari.
Wanita mengenakan kain tenun lokal yang diikat di atas dada dan di bawah ketiak, sama seperti di Toba dan Si Lindung. Bedanya, wanita yang sudah menikah di Si Balungun/Simalungun tetap berpakaian seperti ini, sedangkan di Toba mereka biasanya membiarkan tubuh bagian atas terbuka. Di kepala, wanita mengenakan kain lipat (bulang-bulang) dan hiasan rumbai dari anyaman mendong yang dijalin ke rambut. Telinga wanita dihiasi banyak cincin, dengan lubang telinga seringkali dibuat di sepanjang seluruh pinggiran daun telinga. Perhiasan lainnya termasuk cincin jari. Di masa mendatang, diprediksi pakaian adat akan hilang dan digantikan oleh gaya Melayu penuh, seperti yang sudah terjadi di Tanjung Kasau di mana pria mengenakan celana dan wanita mengenakan baju kurung serta kebaya.
Senjata utama meliputi tombak, senapan batu, dan sejenis sabel panjang dan sempit dalam sarung kayu berbalut kain laken merah atau hijau. Terdapat juga berbagai jenis pisau, termasuk parang (piso). Parang biasa, yang dibawa hampir setiap orang Si Balungun/Simalungun kelas bawah untuk bekerja di ladang, dapat menjadi senjata yang menakutkan di tangan yang terlatih karena ukurannya yang panjang, lebar, dan berat. Wanita yang bekerja ringan di ladang juga dipersenjatai parang saat pergi ke ladang di pagi hari.
Kesenian dan Hiburan Hiburan yang ada meliputi permainan bola Melayu (sipakraga) dan tarian. Tari-tarian, baik yang berkostum maupun mengenakan pakaian sehari-hari, tidak begitu dipentingkan seperti di Toba. Tarian biasa mirip dengan meni Ancak (pencak silat) di Mandailing dan Angkola. Tarian berkostum menyerupai tari begu di Mandailing, namun di Si Balungun/Simalungun menggunakan topeng yang dilukis secara lucu, sementara beberapa penari menirukan berbagai hewan dengan kostum yang sesuai. Tarian berkostum ini terlihat antara lain di Pamatang Purba. Wanita hanya berpartisipasi dalam tarian biasa, dengan gerakan yang tidak begitu elegan. Instrumen musik sama dengan di Toba, dan ansambelnya disebut gandang atau gondang, namun jarang terdengar. Tidak seperti di Toba di mana pejabat Eropa disambut dengan musik, selama perjalanan tim laporan ini, penyambutan dengan musik hanya terjadi di Purba.