Van Dijk 1893: PENDUDUK Simalungun: Sebuah Tinjauan Etnografis Berdasarkan Laporan Kolonial – 2

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 6

Hunian: Istana dan Pondok Ladang Rumah para kepala wilayah dan tokoh terkemuka umumnya luas dan gagah, sedangkan rumah rakyat jelata cukup buruk. Rakyat biasa sering tinggal di pondok-pondok kecil di ladang mereka dan tidak kembali ke kampung di malam hari jika pekerjaan sedang banyak. Akibatnya, kampung seringkali kosong di siang hari, hanya menyisakan kepala kampung, beberapa wanita tua, dan anak-anak. Rumah-rumah dibangun tinggi dari tanah, terutama rumah para kepala wilayah, dengan lantai setidaknya 2 meter, bahkan hingga 4 meter, di atas tanah. Rumah ditopang oleh tiang-tiang kayu berat (biasanya kayu johar) yang ditanam di tanah atau diletakkan di atas batu datar. Bentuknya hampir identik dengan rumah Batak di Toba, namun jauh lebih tinggi, lebar, dan gagah.

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 5. PENDUDUK Simalungun: Sebuah Tinjauan Etnografis Berdasarkan Laporan Kolonial – 1

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 5

Asal-usul, Fisik, dan Karakter Penduduk wilayah Si Balungun/Simalungun (Simalungun) tergolong dalam suku Batak yang berasal dari berbagai daerah di pesisir Danau Danau Toba. Secara adat dan kebiasaan, mereka memiliki banyak kesamaan dengan penduduk pribumi danau tersebut. Meski demikian, terdapat perbedaan fisik yang nyata: pria Si Balungun/Simalungun umumnya memiliki perawakan yang lebih kecil dibandingkan pria Toba, namun baik pria maupun wanita memiliki kulit yang lebih terang dan penampilan yang dinilai jauh lebih baik daripada orang Toba.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.