Van Dijk 1893: 13. Dinamika Kekuasaan Raja na Opat di Simalungun: Hubungan dengan Aceh dan Struktur Internal

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 13

Raja na Opat di Si Balungun/Simalungun memiliki karakteristik yang berbeda dengan sejawat mereka di Toba, ditandai dengan kekuasaan dan prestise yang jauh lebih besar. Hal ini berakar pada fakta bahwa mereka adalah Raja Namora yang sangat dihormati dan menerima tanda martabat (lencana Kerajaan) mereka secara langsung dari Sultan Aceh, bukan dari Singa Mangaraja. Selain itu, mereka menjalankan otoritas atas wilayah luas yang memberikan peluang besar bagi industri pertanian swasta dan penyewaan tanah dalam skala besar.

Jika diasumsikan—dan ini dapat diasumsikan dengan yakin—bahwa keempat Raja Si Balungun/Simalungun ini memiliki asal-usul yang sama dengan Raja na Opat di Toba, maka menjadi jelas bagaimana keempat kerajaan tersebut dipersatukan dari komponen-komponen yang awalnya berdiri sendiri. Hal ini menjelaskan mengapa di dalam kerajaan-kerajaan tersebut, para kepala wilayah sering kali terlibat perang, baik satu sama lain maupun melawan Raja mereka sendiri atau rakyat terdekatnya. Fakta sejarah membuktikan dinamika ini: wilayah Dolok Paribuan pernah berperang melawan Raja Tanah Jawa; perang sengit juga pernah berlangsung sekitar tiga puluh tahun yang lalu antara Tuan Bandar dan salah satu mantan Raja Siantar, di mana pasukan Tuan Bandar berhasil menaklukkan sejumlah kampung dan mencapai Pamatang Siantar (kampung utama Raja), hingga memaksa Raja menyerah dan memenuhi tuntutan Tuan Bandar untuk mencapai perdamaian. Contoh lain adalah perang antara Raja Maligas dan almarhum Tuan na Paso, serta konflik berulang antara wilayah Si Damanik di bawah kepemimpinan Tuan Si Damanik melawan Raja Siantar.

Bahkan di masa sekarang, contoh-contoh serupa masih ditemukan, seperti Tuan Dolok Paribuan yang menyatakan kemerdekaan penuh dari Raja Tanah Jawa, yang menyatakan kepada Pemerintah Hindia Belanda, seraya menjalin aliansi dengan Tuan Sipolha tanpa izin Rajanya. Begitu pula Tuan Purba dan Hinalang yang mengambil alih sebagian wilayah bekas kerajaan Silau dan menggantikan kedudukan Rajanya. Meskipun demikian, diyakini bahwa para Raja Namora yang mandiri ini tetap mengakui dan menghormati Raja Tanah Jawa, Siantar, Silau, dan Paneh dalam martabat mereka sebagai Raja na Opat atau Raja Parbaringin.

Sebuah keunikan yang menunjukkan persamaan dengan Raja Parbaringin di Toba, khususnya Singa Mangaraja, adalah kenyataan bahwa di Si Balungun/Simalungun pun, seorang Raja tidak pernah dihakimi secara pribadi atau diperangi secara langsung. Rumah dan dirinya tidak boleh diganggu, meskipun perang dapat dilancarkan terhadap rakyat atau sekutunya. Prinsip yang sama berlaku bagi Singa Mangaraja; meskipun anggota partai dan kerabatnya pernah dihakimi (misalnya di lanskap Bakara), dirinya secara pribadi tidak pernah disakiti, dan rumah serta kampungnya tidak pernah dibakar. Lebih jauh lagi, jika Singa Mangaraja sedang dalam perjalanan dan melewati wilayah yang sedang berperang, gencatan senjata sementara akan diberlakukan, dan upaya perdamaian dilakukan. Orang-orang yang ditahan di blok di kampung tempat Singa Mangaraja bermalam atau lewat harus dibebaskan, meskipun mereka dapat kembali berperang setelah keberangkatannya. Namun, wilayah yang menolak mengikuti instruksi Singa Mangaraja dapat dijatuhi hukuman oleh gabungan wilayah di seluruh daerah; Singa Mangaraja sendiri tidak memiliki kekuatan untuk memaksakan kepatuhannya, sama seperti Raja Siantar masa kini yang tidak dapat memaksa Tuan Bandar atau Tuan Sipolha untuk tunduk, atau Raja Maligas dari Tanah Jawa terhadap Tuan Dolok dari Paribuan. Meskipun sering kali dengan enggan, perintah Singa Mangaraja sebelumnya diikuti tanpa syarat, dan ketidaktaatan bukanlah suatu pilihan, bahkan jika mereka diperintahkan untuk bertindak melawan kerabat sendiri. Seperti halnya Singa Mangaraja, Raja na Opat Si Balungun/Simalungun juga tidak mengonsumsi daging babi, meskipun mereka adalah orang Batak.

Sudah sekitar tujuh generasi berlalu sejak keempat Raja Si Balungun/Simalungun menerima tanda martabat mereka dari Sultan Aceh. Sebagai perbandingan, jumlah generasi pemimpin-imam berturut-turut yang menyandang nama Singa Mangaraja (yang gelarnya juga diperoleh dari Aceh) kini mencapai 13 generasi, menunjukkan bahwa Singa Mangaraja telah menerima martabat mereka jauh sebelum para kepala Si Balungun/Simalungun. Di antara keempat Raja, Silau menempati pangkat tertinggi dan memiliki prestise terbesar di seluruh negeri pada masanya. Dialah yang membagi Si Balungun/Simalungun menjadi empat kerajaan dan memohon kepada Sultan Aceh agar ketiga rekannya mendapatkan martabat yang sama. Permintaan ini dikabulkan, dan sejak saat itu para Raja na Opat memerintah di Si Balungun/Simalungun sesuai batas kewenangan mereka. Lencana Kerajaan yang diperoleh dari Aceh terdiri dari berbagai benda emas, yaitu: 1 panci nasi emas, 1 sendok emas, 1 panci emas, 1 gelang emas, 1 tombak emas, dan 1 emas tertunda. Tanda-tanda ini diterima langsung oleh para Raja di Aceh pada saat pembentukan keempat kerajaan, dan pada pengangkatan Raja-raja baru, martabat mereka selalu dikukuhkan oleh Sultan Deli sebagai agen Sultan Aceh, disertai dengan penyerahan bukti baru.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.