J. J. Sporrij 1918: 2. Jejak Luka dan Ketangguhan: Ekspedisi Belanda di Dataran Tinggi Gayo

J. J. Sporrij: Tanah Gayo Barat Laut (Wilayah Danau) – 1918

Invasi militer besar-besaran pertama ke wilayah Gayo bermula dari ekspedisi Mayor van Daalen yang terkenal kejam. Pasukannya merangsek melintasi Dataran Tinggi Gayo dan Alas, membawa serta para petugas dari Dinas Topografi. Kehadiran para petugas ini meletakkan dasar bagi proyek pemetaan wilayah Gayo di masa depan.

Baca Selengkapnya

J. J. Sporrij 1918: 1. Harmoni di Pedalaman: Suku Gayo dan Kesultanan Aceh

J. J. Sporrij: Tanah Gayo Barat Laut (Wilayah Danau) – 1918

Di Tanah Rencong, Suku Gayo memiliki posisi yang sangat istimewa. Hutan belantara yang luas membentengi masyarakat pegunungan ini dari wilayah Aceh lainnya, kecuali di bagian tenggara yang berbatasan langsung dengan Tanah Alas dan Tamiang. Selama bertahun-tahun, Suku Gayo mendiami pedalaman Aceh dan berhasil menjaga karakter merdeka mereka secara utuh.

Baca Selengkapnya

Van Daalen 1906: 4. Prahara Tahta Bambel: Perlawanan Berdarah dan Tata Kuasa Wilayah

G. C. E. Van Daalen – Nota Over Het Alas-Land – 1906

Dalam sistem politik Tanah Alas, Sultan Aceh memang memberikan pengakuan resmi dan tongkat bawar sebagai simbol kekuasaan. Namun, pada kenyataannya, pesona dan pengaruh Kedjuron tetap menjadi penentu utama dalam memilih para kepala wilayah di Bambel.

Baca Selengkapnya

Van Daalen 1906: 2. Pasang Surut Kekuasaan di Tanah Alas: Dari Persatuan Suku hingga Kedatangan Kolonial

G. C. E. Van Daalen – Nota Over Het Alas-Land – 1906 Seiring berjalannya waktu, Tanah Alas tumbuh menjadi sebuah wilayah yang dinamis di bawah naungan Kesultanan Aceh. Sosok pemimpin pertama di wilayah ini kemudian menjadi garis keturunan utama bagi para Kejuron Batu Mbulon di masa depan. Hubungan dengan Aceh tidak hanya menjamin keamanan wilayah, … Baca Selengkapnya

Van Vuuren 1910: 2. Tarik Ulur Penaklukan Sumatra hingga Aceh

Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.

Setelah perdebatan sengit pada tahun 1840-an, kebijakan kolonial Belanda di Nusantara memasuki fase “kebingungan massal”. Di satu sisi, para jenderal di lapangan sudah gatal ingin menguasai seluruh wilayah, namun di sisi lain, para petinggi di Den Haag ketakutan membayangkan biaya perang dan teguran dari Inggris.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.