C. De Haan 1870: 14. Sistem Perdagangan, Hukum Utang-Piutang, dan Sistem Gadai Masyarakat Batak

Bagian 14: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak

1. Profil Pedagang Batak Perdagangan di masyarakat Batak umumnya masih berskala kecil dan dianggap sebagai pekerjaan sampingan. Tidak ada pemilik toko menetap atau pengepul besar. Para pedagang terbagi menjadi dua kelompok utama:

Baca Selengkapnya

T. J. Willer 1846: 4. Mengenal Struktur Administrasi Pemerintahan: Tata Kelola Kehidupan Bermasyarakat

T. J. Willer Verzameling Der Battahsche Wetten En Instellingen In Mandailing En Pertibie, Gevolgd Van Een Overzigt Van Land En Volk In Die Streken – 1846

Dalam tatanan masyarakat tradisional kita, administrasi jemaat bukan sekadar soal kekuasaan, melainkan sebuah sistem pembagian peran yang sangat mendetail. Sistem ini memastikan setiap lapisan masyarakat—mulai dari bangsawan hingga warga sipil—memiliki wakil dan tanggung jawabnya masing-masing.

Baca Selengkapnya

T. J. Willer 1846: 2. Hierarki dan Keadilan di Huta Batak: Dari Bangsawan hingga Budak Gadai

T. J. Willer Verzameling Der Battahsche Wetten En Instellingen In Mandailing En Pertibie, Gevolgd Van Een Overzigt Van Land En Volk In Die Streken – 1846

Dalam tatanan politik Batak kuno, sebuah komunitas atau desa yang mereka sebut Uta bukan sekadar kumpulan rumah. Uta merupakan entitas politik yang mandiri. Di dalamnya, masyarakat membangun struktur sosial yang sangat teratur, terdiri dari para pemimpin, kaum bangsawan, rakyat merdeka, hingga golongan pekerja yang terikat utang.

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 8. Sistem Pemerintahan, Suksesi, dan Hukum Adat Desa Batak

Bagian 8: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Hierarki Desa dan Triumvirat Kepemimpinan Pemukiman Batak Karo terbagi menjadi dua jenis: desa utama yang berkuasa disebut kampung, dan desa bawahannya yang disebut dusun. Kedua entitas ini dipimpin oleh sebuah triumvirat (tiga serangkai) yang terdiri dari panghuloe, senina, dan anakberu. Formasi dasar ini sangat ditaati di dusun, namun di tingkat kampung strukturnya lebih luas, di mana beberapa panghulu bahkan menyandang gelar sibayak dan raja.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.