C. De Haan 1870: 4. Pakaian, Perhiasan, dan Kemegahan Tradisi Penyambutan Batak

Bagian 4: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870) 1. Kesederhanaan Busana Sehari-hari Pakaian masyarakat Batak dataran tinggi sangatlah sederhana, terbuat dari kain katun tenunan sendiri. Para pria melilitkan kain di pinggul; penggunaan celana atau sarung yang dijahit sangat jarang dan merupakan pengaruh Melayu. Tubuh bagian atas kadang ditutupi baju (penulis bahkan … Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 3. Flora, Fauna, dan Kehidupan Masyarakat Dataran Tinggi Batak

Bagian 3: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Kekayaan Flora dan Pemanfaatan Hutan Meski dataran tinggi didominasi ilalang, hutan masih sengaja dipertahankan di sekitar kampung untuk kayu bakar dan menutupi pegunungan (kecuali Gunung Piso-piso). Tanaman yang tumbuh meliputi anom, pepaya, rambutan (diekat), jeruk manis, nangka, degerat, berkul, embacang asam (bergong), jambu, serta kemiri yang minyaknya diperas untuk kebutuhan sehari-hari. Pisang dan durian tidak dapat tumbuh di sini.

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 3. Peta Wilayah Simalungun dan Lanskap-lanskapnya 1893

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 3

Secara keseluruhan, wilayah Si Balungun/Simalungun merupakan hamparan dataran yang sangat luas, subur, dan tertutup hutan, yang perlahan landai naik dari arah pesisir menuju tepian Danau Toba. Kenaikan elevasi ini terjadi begitu bertahap* sehingga hampir tidak terasa bagi para pelancong; bentang alam baru mulai terasa bergelombang ketika mendekati pegunungan perbatasan.

* Kelandaian jalan dari Pantai Timur ke Parapat sangat terasa saat kita berkendari, sangat kontras dengan dibandingkan rute Medan-Tongging atau Barus-Toba yang ekstrem. Rute Siantar dominan datar hingga Parapat, lalu menanjak moderat. Sebaliknya, rute dari Medan ke Tongging dan Barus menyajikan turunan/tanjakan curam ketika kita ke Danau Toba atau saat turun langsung menuju bibir danau (kaldera).

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 2. Menembus Dataran Tinggi Batak -Dari Cingkem hingga Danau Toba

Bahagian 2: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Cingkem*: Gerbang Menuju Tanah Merdeka Perjalanan dari Bulu-aur berlanjut melintasi rute yang relatif mulus, melewati desa-desa seperti Kuta-Bungkei, Katangkuhan, Merkelu, Sikabuen, Pagarbatu, Besukun, dan Bukum. Jalur ini berujung pada turunan curam menuju Cingkem, sebuah permukiman baru berisi enam rumah tangga. Cingkem merupakan gerbang perbatasan geografis dan politis menuju wilayah Batak yang sepenuhnya merdeka, di mana daratan tinggi hanya terhalang oleh satu punggung gunung.

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 2. Narasi Sejarah: Tinjauan Umum Geografi Simalungun

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 2

Lanskap Tanah Jawa, Siantar, dan Tanjung Kasau* hampir sepenuhnya datar, kecuali di bagian di mana Tanah Jawa dan Siantar terhubung ke pegunungan perbatasan. Setelah menuruni pegunungan dari sisi ini, kita sampai pada sebuah dataran tinggi (bergplateau) yang merupakan kelanjutan dari dataran tinggi Toba yang mengelilingi seluruh danau. Di dataran tinggi yang benar-benar gundul ini—hanya ditumbuhi alang-alang dan berbagai jenis rumput—terdapat beberapa lanskap yang termasuk dalam wilayah Si Balungun/Simalungun (Tanah Jawa**); wilayah lainnya, termasuk yang berada di sisi Si Manuk-Manuk (Uluan), sepenuhnya merupakan wilayah Toba. Selain itu, seluruh negeri ini dialiri oleh aliran sungai-sungai gunung yang tak terhitung jumlahnya dengan arus cepat serta air yang sangat jernih dan dingin. Lebar sungai-sungai ini bervariaSiantara 3 hingga 20 meter.

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 1. Sejarah dan Batas Wilayah Simalungun Kuno

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 bagian 1

Geografi dan Batas Wilayah Si Balungun/Simalungun*

* Nama yang dikenal dan kini di Gunakan adalah Simalungun.

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 1. Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak

Bagian 1

Pada bulan September hingga Oktober 1870, sebuah ekspedisi resmi pemerintah Hindia Belanda diberangkatkan menuju wilayah Batak merdeka di pedalaman Sumatera. Perjalanan ini didampingi oleh fotografer F. Feilberg dan Pangeran Deli.

Baca Selengkapnya

Sejarah Marga dan Pemerintahan Simalungun

Marga Raja Simalungun sering disingkat SiSaDaPur (Sinaga, Saragih, Damanik & Purba).

Menurut J Tidemen – Asistent Residen Simalungun tahun lewat bukunya yang diterbitkan tahun 1922, Struktur masyarakat dan pemerintahan tradisional Simalungun bertumpu pada empat marga utama, yakni Damanik, Sinaga, Saragih dan Purba*. Keempat marga inilah yang membagi wilayah dan urusan kependudukan menjadi empat wilayah kekuasaan yang direpresentasikan dalam posisi duduk di balai musyawarah (Bale): Silo di kanan depan, Tanah Jawa di kiri depan, Siantar di kanan belakang, dan Pane di kiri belakang.

Baca Selengkapnya

Manusia dalah Cucu Tuhan: Misteri Dan Asal-Usul Alam Semesta Dalam Mitologi Batak sebagai Kompas Jiwa Peradaban

Banyak orang mengira mitologi hanyalah dongeng pengantar tidur yang perlahan terlupakan oleh zaman. Namun, bagi sebuah peradaban, mitologi adalah “kompas jiwa”. Ia bukan sekadar cerita; ia adalah kumpulan narasi suci yang membedah rahasia asal-usul jagat raya, alasan manusia berpijak, hingga garis batas moral yang menjaga kehidupan.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.